Langsung ke konten utama

Cerita pendek

We just a partner
Writers : Uni 

“yuuma!” sapaan itu terdengar nyaring. Aku membalikan tubuhku dan nampaklah sosok wanita dengan seragam sekolahnya yang rapi, rambut coklat yang diikat 2 dengan rapi, apa lagi matanya yang berbinar-binar membuat ia nampak sempurna.
          “biasanya kamu datang sangat pagi,”
          “Ahahaha.. semalam aku tak bisa tidur,” aku tertawa kecil
          “oh ya? Aku khawatir kalau kamu kelelahan dan sakit,”
          “T-tid-ak akan, Rinata!” Aku tersipu malu atas perhatian lebihnya padaku. Memang ia teman sekelas yang peduli padaku.
          Kami akhirnya sampai di ruang kelas tepat saat bel sekolah berkicau. “Syukurlah kita tidak terlambat,” Rinata nampak tersenyum puas. Aku hanya ikut tersenyum. Rinata memang terkenal akan kecantikannya. Di tambah lagi ia adalah sekretaris OSIS.
          Aku menyimpan tas di bangku. Baru saja aku menghembuskan nafas lega, seseorang yan duduk dibelakang memanggilku. “ada apa Aika?” Tanyaku polos pada Aika. Menurutku, Aika adalah siswi pendiam dan pemalu. Meski begitu ia sainganku saat belajar, ia selalu mendapat ranking 1 dan aku ranking 2. “T-tidak apa-apa,” ujar Aika. Aku ana menanggapinya dengan senyuman.
          “Sejak kapan kamu pacaran sama Rinata?”
          “Hah??” Aku memasang muka bodoh.
          “Jujurlah pada kami” Julian dan Affandi menggodaku.
          “Ahh apa yang kalian bicarakan.. aku hanya kebetulan bertemunya di stasiun” Aku menjawab dengan jujur. Namun, tetap saja kedua temanku ini.
          Kriiing… kriing.. kriiing…
          Istirahat akhirnya tiba. Aku menghabiskan bekalku bersama Rinata. Yam au apa lagi, ia mengajak aku makan siang bersamanya. Namun entah mengapa perasaanku tidak enak. Hmm… seperti ada yang memperhatikanku, tapi aku tak tahu siapa.
          “Yuuma? Kamu nyariin apa sih?” Rinata mengejutkanku.
          “A-ahh ti-dak” aku menjawabnya terbata-bata. Rinata nampak kecewa. Wajar memang ia kecewa. Bagaimana tidak, aku tak memperhatikannya saat ia bicara padaku.
          Kelas akhirnya dimulai kembali. Aku masih merasa ada yang mengawasiku. Ini terasa seperti ada tatapan orang hendak menusukku, ya aku seperti sedang di intai. Perasaan ini sungguh membuat aku terganggu. Aku tak bisa konsentrasi pada pelajaran matematika yang aku cintai ini.
          Ahh, kenapa gelap?
          “Yuuma!” aku mendengar jeritan Aika yang duduk tepat dibelakang kursiku. Aku tak bisa menggerakan seluruh tubuhku. Aku hanya mendengar beberapa orang berbicara, namun tak begitu jelas. Aku juga merasakan tubuhku terangkat.
Apa yang terjadi? Seseorang katakanlah.
Mataku akhirnya rapat terbuka walau sangat erat. Pandanganku masih sangat kabur. Belum lagi aku tak memakai kacamata.
“Yuuma, akhirnya kau sadar..” Ujar seorang perempuan sambil memakaikan kacamataku.
“Apa yang terjadi?”
“Kau pingsan saat pelajaran berlangsung,”
“Aika?”
“Iya ini aku Aika” Aika lalu menyodorkan segelas teh hangat untukku. Kami akhirnya berbincang-bincang di ruang UKS. Meski sekelas bahkan bangku kami berdekatan, Aika dan aku tak begitu dekat.
“Yuuma, aku tahu, kamu merasa seperti di perhatikan seseorang,” Aika menundukan kealanya. Sontak aku terkejut mendengar perkataannya. “Aku merasakan hal yang sama, Yuuma” lanjut Aika
“Merasakan hal yang sama?” Aku bingung.
“3 bulan yang lalu, kakak ku telah tiada. Sebelum ia pergi, ia menyimpan surat di sekolah ini tanpa memberi aku sebuah petunjuk. Jujur saja aku bingung encarinya kemana. Aku ingin seseorang membantu mencarinya. Aku sangat berharap padamu,” Aika menjelaskannya sembari matanya berkaca-kaca.
“Padaku?”
“Ku mohon Yuuma. Aku yakin kau dapat membantuku. Aku tau sering kau berhasil bermain riddle, tolong anggaplah ini riddle, aku mohon…” Aika tak sanggup membendung air matanya.
“B-baik-lah, aku akan membantumu, Aika”
Sejak kejadian itu, aku dan Aika menjadi dekat. Aku dan Aika berusaha mencari surat itu. Aku dan aika tak bisa terus terganggu leh bayangan yang menghantui kami. Seiring berjalannya waktu, kam menjadi sangt akrab. Banyak yang memvonis bahwa kami adalah sepasang kekasih.
“Yuuma!” Rinata memanggilku.
“Ada apa?”
“Aku sudah lama menahan perasaan ini Yuuma. Aku tak ingin banyak basa-basi lagi. Mau kah kamu menjadi kekasihku? Aku sangat menci-ntai.. mu,”
Mendengar peryataan serta pertanyaan Rinata aku tak bisa berkutik. Kelas menjadi ricuh dan kini air mata Rinata perlahan mulai mengalir. Jujur saja aku tak mengerti apa itu cinta dan bahkan aku tak mengerti apa yang di lakukan sepasang kekasih.
Apa yang harus aku jawab?
Julian dan Affandi terus menyorakan bahwa aku harus menerimanya. Arghh.. apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar bingung. Mengapa ia menyatakan ini semua?
“M-maafkan aku Rinata, berikan aku waktu untuk menjawabnya” Aku lalu pergi keluar kelas. Aku tahu, mungkin aku kejam, tapi ia juga kejam telah mempermalukanku dihadapan teman-temanku.ahh aku jadi sangat bimbang.
“Tenanglah, Yuuma” Aika berada di sampingku.
“Ahh.. aku tak begitu memikirkannya, hahah…” Aku tertawa bersama Aika.
Tak terasa, ini sudah siang. Sekolah akhirnya bubar. Aku dan Aika kembali melanjutkan pencarian surat itu. Ketika aku melewati sebuah ruang klub, entah ruang klub apa, aku mendengar perbincangan dua orang.
“Kau di terima sama Yuuma?”
“Dia meminta waktu, lelaki memang ribet”
“Ku harap kau di terima olehnya. Rinata aku tak ingin semua orang tahu, aku adalah kekasihmu. Aku mencintaimu Rinata”
“Aku juga sangat mencintaimu”
Aku seperti tersambar petir mendengar pemicaraan itu. Aku hendak membuka pintu ruang klub namun, Aika mencegahku. Ia sudah merekam perbincangan itu dengan ponselnya. Kami pun berlalu.
Berkat bantuan seorang teman alm. Kakak Aika, kami berhasil menemukan surat itu. Surat itu tersimpan baik di sebuah laci yang ada di gudang klub basket yang dulu alm. Kaka Aika ikuti. Aku tersentuh ketika Aika menemukan surat itu. Aika meneteskan air mata bahagia bercampur dengan sedih. Meski begitu ia terlihat manis.
Keesokan harinya…
“Yuuma, maukah kamu menerimaku?” Ujar Rinata ketika aku baru menyimpan tas ranselku. Aku tersenyum tanpa sepatah kata. “Yuuma jawablah!” Rinata menangis. Seluruh kelas menjadi rich dibuatnya.
“Rinata, hapuslah air matamu, aku tak ingin melihat air matamu” Ujarku sambil tersenyum. Rinata kini nampak sedikit tersenyum.
“Kau menerimaku?”Tanya Rinata meyakinkan.
Sreett…
Terdengar sebuah bangku bergeser, Aika bangkit dari bangkunya dan berjalan ke arahku. Ia memberikan sebuah ponsel miliknya kepadaku. Tiba-tiba kelas menjadi hening.
“Maaf, Rinata aku tak berminat menjadi kekasihmu” Ujarku tegas. Seluruh isi kelas bersorak kecewa atas keputusanku. “aku tahu kau sudah memiliki kekasih sesama jenis. Aku mendengar perbincanganmu di ruang klub. Aku tah kau hanya ingin kedokmu sebagai perempuan berpacaran sesame dengan perempua terungkap” lanjutku. Semua orang tercengang.
“A-apa maksud…”
“Rinata, jika kau mencinta seseorang, kau harus bisa menjaganya. Walau terungkap, bila kau benar tulus dalam cintayang kau rajut dengannya, kau tak akan malu. Itulah cinta sesungguhnya” Aku sengaja memotong pembicaraan. Aku melihat Aika tersenyum mendengar jawabanku. Aku juga melihat mata Rinata yang berkaca-kaca.
“T-terim-a ka-sih, Yuuma. Aku benar mencintainya, meski orang menganggap aku abnormal” Ujar Rinata yang akhirnya kebanjiran air mata. Ia lalu berlari keluar kelas, entah kemana.
“Aika!”
“kerja bagus, Yuuma!” Aika menyunggingkan senyumnya yang manis itu.
Pulang sekolah tiba..
“Aika, ikutlah denganku, sebentar”
“Ok,”
Aku dan Aika berjalan ke Alun-alun kota. Disini aku melihat banyak anak sekolah yang menikmati WiFi gratis, ada yang sedang bermain, bahkan ada yang hanya untuk berbincang dan refreshing.
“Aika..”
“Ya?”
“Misi sudah berhasil, aku lega”
“Aku pun merasa lega..” Kami tertawa bersama
“Aika, aku merasa nyaman bersamamu,”
“Yuuma, aku bahkan lebih nyaman dari pada yang kau rasakan..”
“Ahh, kau ini hahha…”
“kau tahu apa surat dari kakak ku?”
“Apa?”
“Kakak ku bilang, kalau ia berharap aku akan merasa bahagia bersama orang yang membantuku mencari surat ini. Kakak ku akan selalu mendoakannya,” Aika tersenyum padaku.
“Aku merasa terhormat dengan itu, Aika”
Sejak saat itu, aku dan Aika menjalin hubungan baik. Aika adalah teman bersaing dalam kelas dan motivatorku saat aku jatuh. Orang berbicara kami adalah pasangan baru yang akrab, meski begitu kami tak menghiraukannya. Kurasa kami adalah partner. Mungkin partner hidup.
                                                -taA



note : mohon maaf bila banyak kesalahan.. btw, ini adalah cerpen yang gue tulis 2 tahun lalu. tepatnya 4 juli 2013. cerpen ini adalah cerpen ke tiga dari sekian cerpen yang gue tulis. 









  

          

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KULIAH PSIKOLOGI? SERU BANGET!

Potongan cerita dibalik kuliah psoikolojgi mahasiswa kupu-cupu “Enak ya kuliahnya gak ada hitungannya” “Kuliah psikologi emang mau jadi apa? Jadi HRD? Guru BK? Dokter jiwa? Atau peramal?” “Kuliahnya susah” “Peluang kerjanya sempit?” Hello readers! Selain petanyaan di atas nih, masih banyak lagi pertanyaan seputaran kulian psikologi yang baru katanya gini ya katanya gitu ya? Loh, terus yang bener itu gimana? Yuk kita bahas apa aja serba serbi kuliah psikologi.                 Nah sebelumnya, aku ini seorang mahasiswi jurusan psikologi yang saat ini sudah menempuh setengah jalan, doakan cepet lulus yaa! ^^ sekarang aku pengen bahas gimana sih rasanya dan apa aja yang ada di jurusan psikologi tentunya ini dari perspektif aku berdasarkan pengalaman aku berkecimpung di jurusan ini dan juga beberapa cerita dari temen-temen yang sharing sama aku dari universitas yang lain.     ...

TIPS MENJAGA KESEHATAN MENTAL [SPECIAL WORLD MENTAL HEALTH DAY]

Masih banyak orang yang lebih mementingkan kesehatan fisik dan sering kali mengabaikan kesehatan mental mereka. Padahal keduanya sangat penting dan harus berimbang. Gini deh, percuma kan kalau kita sehat fisik tapi secara mental kita nggak sehat, kegiatan kita mungkin akan terganggu mungkin juga relasi kita ikut terganggu bahkan kesehatan fisik kita juga bisa terganggu jika mental kita nggak sehat. Begitu juga sebaliknya. Lalu pertanyaannya bagaimana kita bisa menjaga kesehatan mental kita? Sebenarnya, banyak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental kita. Hanya saja kita tidak menyadarinya atau sadar namun malas untuk melakukannya. Apa saja itu? Berikut adalah beberapa tips untuk menjaga kesehatan mental kalian Belajar mencintai diri sendiri . Tentu sudah sering mendengar kata-kata ini namun sudahkah kalian terapkan? Ini memang sangat mudah kita ucapkan tapi sulit dipraktekan. Sering kali tanpa sadar kita memandingkan diri kita dengan orang lain, memikirka...

DAMPAK PANDEMI COVID19 : PERILAKU KONSUMEN

Pandemi covid19 yang melanda Indonesia yang terdeteksi sejak Maret 2020 banyak mempengaruhi masyarakat dalam segala aspek. Bahkan dampaknya terlihat sejak hari pertama diumumkan adanya kasus pertama pasien positif covid19 di Indonesia. Wabah ini juga berdampak pada perilaku konsumen di Indonesia. Wabah covid19 memicu panic buying di masyarakat yang membuat kebutuhan-kebutuhan pokok, handsanitizer, masker dan lainnya. Ini saya alami ketika berada di salah satu supermarket di Kota Cimahi yang saya kunjungi untuk membeli keperluan bulanan dan saya mendapati rak bagian handsanitizer dan masker telah kosong. Terlihat banyak orang berbondong-bondong membeli kebutuhan pokok secara berlebihan atau panic buying . Panic buying ini dipicu akibat ketakutan dan kekhawatiran yang timbul di masyarakat akan ketidakjelasan kondisi dan akibat yang nanti ditimbulkan wabah covid19. Hal ini yang kemudian memotivasi mereka menimbun kebutuhan pokok serta barang lainnya yang mereka beli secara impulsif. ...