Langsung ke konten utama

Psikolog vs Psikiater, bedanya apa?


Hello readers!
Hayooo siapa disini yang masih suka bilang kalau psikolog dan psikiater itu sama? Kalau ada, kalian salah! Lah, terus bedanya apa sih? Yuk simak di pembahasan kali ini.
Sekilas, psikolog sama psikiater itu kelihatan sama ya, kata orang-orang sih sama-sama depannya psi- hehehe, kerja di RSJ, ngobatin orang yang sakit jiwa, terus katanya serem, bisa ikutan gila (?). Waaah, padahal gak gitu juga guys. Nah disini ada beberapa perbedaan yang aku tahu.
Pertama, dari latar belakang pendidikan. Psikolog itu sekolahnya jurusan Psikologi kemudian ambil S2 Profesi psikolog. Kalau Psikiater itu Pendidikan dokter dan kemudian ambil spesialis kedokteran jiwa. Dengan begini, secara otomatis apa yang di pelajarinya juga beda.
Kedua, gelarnya. Jelas beda dong, wong sekolahnya juga beda ya. Kalau psikolog itu biasanya punya gelar “M.Psi, Psikolog” kalau psikiater itu biasanya “dr. Sp.KJ”.
Ketiga, tugas dan wewenangnya. Nah beda kan tuh judulnya, yang satu psikolog yang satu psikiater jadi beda juga tugasnya. Psikiater itu boleh ngasih pasiennya obat dan tindakan medis lain kalau psikolog gak boleh tapi boleh ngasih treatment-treatment sesuai dengan kebutuhan. Kalau orang (sebut saja A) periksa ke psikiater tapi ternyata perlu konseling/treatment tertentu dari psikolog, A bakal dirujuk ke psikolog. Sebaliknya, kalau A periksa ke psikolog dan ternyata perlu terapi dengan obat, A akan di rujuk ke psikiater, dan tentunya sesuai dengan prosedur yang berlaku ya.
Terakhir, psikiater bilangnya “pasien” karena biasanya melayani yang emang udah “sakit” sedangkan psikolog manggilnya “klien”. Kok klien? Karena psikolog itu gak hanya ngelayanin yang punya gangguan jiwa, ada yang melayani orang “normal” (misalnya saat psikotes), orang dengan keterlambatan, keterbatasan sampai anak gifted (tergantung konsentrasi dari profesi psikolognya). Pemanggilan “klien” juga untuk mengurangi rasa takut masyarakat yang mau konseling dan gak mau dibilang sakit jiwa.
Lebih baik jadi Psikolog atau Psikiater? Pada dasarnya gak ada profesi yang lebih bagus atau yang buruk karena setiap profesi punya kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi dan pastinya punya tugas yang berbeda yang sama-sama penting.
Kurang lebih seperti itulah kawan-kawan. Sudah jelaskan? Nah, kamu pilih jadi psikiater atau psikolog hayooo?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KULIAH PSIKOLOGI? SERU BANGET!

Potongan cerita dibalik kuliah psoikolojgi mahasiswa kupu-cupu “Enak ya kuliahnya gak ada hitungannya” “Kuliah psikologi emang mau jadi apa? Jadi HRD? Guru BK? Dokter jiwa? Atau peramal?” “Kuliahnya susah” “Peluang kerjanya sempit?” Hello readers! Selain petanyaan di atas nih, masih banyak lagi pertanyaan seputaran kulian psikologi yang baru katanya gini ya katanya gitu ya? Loh, terus yang bener itu gimana? Yuk kita bahas apa aja serba serbi kuliah psikologi.                 Nah sebelumnya, aku ini seorang mahasiswi jurusan psikologi yang saat ini sudah menempuh setengah jalan, doakan cepet lulus yaa! ^^ sekarang aku pengen bahas gimana sih rasanya dan apa aja yang ada di jurusan psikologi tentunya ini dari perspektif aku berdasarkan pengalaman aku berkecimpung di jurusan ini dan juga beberapa cerita dari temen-temen yang sharing sama aku dari universitas yang lain.     ...

TIPS MENJAGA KESEHATAN MENTAL [SPECIAL WORLD MENTAL HEALTH DAY]

Masih banyak orang yang lebih mementingkan kesehatan fisik dan sering kali mengabaikan kesehatan mental mereka. Padahal keduanya sangat penting dan harus berimbang. Gini deh, percuma kan kalau kita sehat fisik tapi secara mental kita nggak sehat, kegiatan kita mungkin akan terganggu mungkin juga relasi kita ikut terganggu bahkan kesehatan fisik kita juga bisa terganggu jika mental kita nggak sehat. Begitu juga sebaliknya. Lalu pertanyaannya bagaimana kita bisa menjaga kesehatan mental kita? Sebenarnya, banyak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental kita. Hanya saja kita tidak menyadarinya atau sadar namun malas untuk melakukannya. Apa saja itu? Berikut adalah beberapa tips untuk menjaga kesehatan mental kalian Belajar mencintai diri sendiri . Tentu sudah sering mendengar kata-kata ini namun sudahkah kalian terapkan? Ini memang sangat mudah kita ucapkan tapi sulit dipraktekan. Sering kali tanpa sadar kita memandingkan diri kita dengan orang lain, memikirka...

DAMPAK PANDEMI COVID19 : PERILAKU KONSUMEN

Pandemi covid19 yang melanda Indonesia yang terdeteksi sejak Maret 2020 banyak mempengaruhi masyarakat dalam segala aspek. Bahkan dampaknya terlihat sejak hari pertama diumumkan adanya kasus pertama pasien positif covid19 di Indonesia. Wabah ini juga berdampak pada perilaku konsumen di Indonesia. Wabah covid19 memicu panic buying di masyarakat yang membuat kebutuhan-kebutuhan pokok, handsanitizer, masker dan lainnya. Ini saya alami ketika berada di salah satu supermarket di Kota Cimahi yang saya kunjungi untuk membeli keperluan bulanan dan saya mendapati rak bagian handsanitizer dan masker telah kosong. Terlihat banyak orang berbondong-bondong membeli kebutuhan pokok secara berlebihan atau panic buying . Panic buying ini dipicu akibat ketakutan dan kekhawatiran yang timbul di masyarakat akan ketidakjelasan kondisi dan akibat yang nanti ditimbulkan wabah covid19. Hal ini yang kemudian memotivasi mereka menimbun kebutuhan pokok serta barang lainnya yang mereka beli secara impulsif. ...